Kamis, April 15, 2010

KOSAN - KONTRAKAN


Menjadi anak kosan. Pasti anda ingat dg lagunya p-project, "beginilah nasip anak kos"... Jauh dari orang tua, harus berfikir jika uang habis, harus mencuci pakaian sendiri, masak sendiri, huft apa-apa sendiri. Memang manfaatnya sangat baik untuk pengembangan diri kita,khususnya kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab.

Seharusnya jika menjadi anak kosan kita harus benar-benar mengatur kegiatan kita, dan tentunya mengatur pengeluaran-pemasukan keuangan kita. Hehe dasar karena diriku boros, kadang akhir bulan sudah habis, huft :( mw tdk mau kontak ke rumah juga untuk meminta kiriman, padahal seharusnya kita lah yang mengirim ke rumah karena sudah bekerja.

Sudah lebih satu tahun saya hidup menjadi anak kosan, atau lebih tepatnya anak kontrakan. Diawali 3 bulan saya tinggal di radio dalam jaksel bersama anak-anak PLN Pusat kawan-kawan dari mas Oji, karena memang waktu itu kantor ane di Lebakbulus Jaksel. Banyak kenangan disana, suka dan duka dilalui.
Yang jelas disanalah, mas Oji bisa dekat dg Wulan sodaranya pacarku waktu itu Nina, dan diriku harus putus.hehehe Ya tak doain mas oji dan wul cepet nikah deh :)

Kemudian bulan Februari 2009, karena kantor saya dipindah ke Joglo Jakbar, maka mau tdk mau saya pun harus mencari yang dekat dengan kantor. Beberapa hari mencari akhirnya dapat juga, yakni rumah petak. Awalnya memang enak, tp lama kelamaan tidak nyaman. Bau yang tidak sedap dari belakang rumah, hingga tetangga yang suka ketok-ketok rumah dikira sy menggunakan air. Huft.. Tapi dikos tsb àϑá kenangan tentang cinta, disana saya jadian dg astari adek angkatan di kampus dulu. Hehe meskipun kandas juga bulan februari 2010 lalu. Huft. :(

Karena sudah tidak betah, Saya pun pindah ke kontrakan yang baru. Yakni di perum puri bintaro hijau Tangerang. Cukup jauh memang dari kantor,tapi tidak masalah yang penting kenyamanan dan ketenangan. Saya berdua bersama rasito,jadi tidak terlalu berat dalam hal pembayaran. Didepan àϑá masjid pula, jd bisa solat jamaah terus. :)

Àϑá cerita yang tdk bisa dilupakan yakni pada Saat idul adha yang lalu, karena kita berpikir masjid didepan rumah, jam 6 kita masih nonton tv, 15 menit kemudian baru kita kluar rumah dan ternyata WOW, jamaahnya sdh sampe depan rumah.xixixi malu kita itu, masjid dekat tp malah telat.

Awalnya rumah ini ramai sekali, banyak kawan-kawan yang bermain disini, tapi sejak bisnis hancur, sepi. Terlebih rasito pindah kerjaan dan harus meninggalkan rumah. Jujur saya kesepian. Bermain pe es hanya sendiri, tidak àϑá kawan ngobrol, padahal saya butuh teman. Disaat saya sedang àϑá dibawah,dg bisnis yang gagal,percintaan kandas, dan sakit tipes+dbd, saya butuh second opinion dari teman. Selain itu, tentunya juga mengeluarkan biaya kontrakan sendiri. Huft..

Orang tua pun memberikan masukan untuk pindah. Awalnya agak males,knp? Karena males bawa barang2nya, disini sudah nyaman,dll tapi sekarang berpikir kayaknya iya harus pergi saja. Terlebih disini saya punya trauma tersendiri. Ditempat inilah saya kehilangan beberapa hal, bisnis, sahabat, dan yang masih terluka hati ini adl kehilangan kekasih. Ck ck ck sebegitunya yah :)

Saya tidak tau akan pindah kemana lagi. Kemaren saya ketemu Rasito, agar tinggal bersama dia saja di kawasan rawa buaya jakbar. Sebenarnya saya cukup tertarik, tapi àϑá hal yang membuat saya berpikir ulang Karena dekat dg daerah duri kosambi. Daerah tersebut merupakan tempat kosan mr X anak stt PLN yang menjadi pengalaman yang tidak mengenakan. Membuka luka dan trauma klo dengar atau melihat daerah tersebut.

Yah, cari yang lain saja. Tempat yang baru. Dengan tujuan membuka kehidupan baru. Menutup hal-hal yang buruk. Bisa jadi saya ngekos di daerah depok, jika S2 saya jadi tahun ini. Atau diderah tangerang, karena saya ingin belajar ilmu agama di ponpes milik Yusuf mansyur.

Yup merasa kesepian, dan trauma atas banyaknya masalah yang dtg yang membuat saya ingin pindah. Tapi pak Parlindungan Marpaung yang merupakan psikolog memberikan nasehat,kata dia Terkadang hidup ini terasa begitu tertekan dg permasalahan yang bertubi-tubi,yang setiap harinya dirasa cukup berat saja. Akan tetapi bukankah setiap masalah yang àϑá dapat dijadikan batu pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi mar?

Kita juga tidak bisa terus-menerus menyesali apa yang terjadi, sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang àϑá. Kita harus mengubah cara pandang kita terhadap suatu masalah, dengan begitu akan ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tdk ditemukan sebelumnya.

Ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak akan terulang lagi. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang trjadi pada dirinya.
'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan yang dimilikinya lepas. Emas akan tampak benar-benar emas setelah melalui pengujian api, bukan ketika dia diletakan sebagai perhiasan baru.

Masukan positif yang cukup mengena dihati. Seseorang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan dilihat dari kekayaan atau jabatan yang tinggi, bukan pula dari pernyataannya yang muluk-muluk, dan bukan pula dari kekuasaan yang dimilikinya, melainkan dari dapur api pengujian hidup.

Mantab!! Semoga anda selalu sukses!!