Sabtu, April 17, 2010

i hate this! i hate Insomnia!


Jam tanganku bergetar, huft ternyata sudah pukul 2.45 wib,tapi mataku nda bisa tertutup. hei! whats wrong with me? punggung ini sudah pegal, badan ini sudah lemes, mata sudah tak coba untuk saya pejamkan. But, i can't to sleep!
huft, berbgai cara pun sudah aku coba, minum susu sudah, ngitung mundur ekor monyet, dan kata ari coba ngaji, sudah,tapi tetep gak bisa.

Bahkan buka baju dan celana aku lakukan *lho iki opo hubungane saruu saruu... ngga saru kok karena Dalam buku The Best Sex of Your Life karya Jennifer Hunt dan Dan Baritchi, digambarkan betapa tidur telanjang memberikan banyak manfaat. Sentuhan bahan seprai yang lembut pada kulit, atau sentuhan kulit Anda dan pasangan, akan mendorong peningkatan kehidupan seksual Anda, tapi malah tambah ngga bisa tidur, malah mikir yg tidak-tidak.hahaha

Padahal tadi siang aku sudah kerja cukup melelahkan, sudah ngantuk-ngantuk terus. kenapa sudah saatnya tidur nda bisa-bisa. :( akhirnya hanya melakukan BBan, mengetak-ngetik chating, FBan, Twitteran, ngegame, tetep wae nda bisa malah buat jempol tambah gede kayak habis direndam di minyak tanah * lho karet gelang po?? .red

maybe, Ini gara-gara jam kerja yang nda jelas. Bayangkan, baru datang dari Purwokerto naik purwojaya jam 3 pagi, jam 5 sudah tugas producer, eh harusnya pulang jam 14, manjang karena harus siaran, nda masalah sih sebenarnya tapi dah kesel ki badanne. Besoknya masuk jam 14-23.sampe rumah jm 00.30an solat, sikat gigian tidur baru jam 1an jam 3.30 dah bangun lagi. Besoknya jadwal harusnya masuk jam 14,jd mw tidur dulu jam 8, eh tiba-tiba ditelp suruh masuk jam 9-18 karena semalem belum tidur. nguantuk berat tapi aku tahan.

eh keesokan harinya masuk dinihari, yuk mariii nguantuk pisan kerjanya, tapi tetep aku tahan biar ga tidur. what's the effect? METABOLISME ku TERGANGGU! karena jam TIDUR tidak teratur!! Sulit tidur sudah pasti menggangu. Tubuh menjadi kurang segar, stamina menurun, dan aktifitas harian pun turut terimbas. :( *klo dah ada istri sih nda malah.. bisa tem**pur
Bagaimana aku bisa cepat gendut? bagaimana aku bisa fit lagi 100 %? setelah kena sakit hampir selama 2 minggu. Makan aja nda napsu! *tapi napsu utk nikah tetep! hehe.red


Akhirnya, telp ke seorang teman yg kebetulan dokter, kebetulan juga lagi jaga, dan katanya Setiap orang itu mempunyai kebutuhan lama tidur yang berbeda. Sebagian orang cukup dengan hanya tidur selama 4-5 jam saja setiap malam, bahkan ada yang minimal perlu 8 jam untuk tidur semalam. Insomnia sebenarnya bukan terkait dengan berapa lama tidur, tetapi yang lebih penting bagaimana kualitas tidur anda.

Gejala insomnia dijelaskannya sebagai berikut:

Sukar untuk memulai tidur dan lama tidak bisa memejamkan mata.
Mudah tertidur tetapi bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali.
Sering terbangun di tengah malam sehingga sering mengantuk di siang hari.

Penyebab umum yang terjadi:

- Stres di rumah atau tempat kerja (bisa juga nih)
- Perubahan pola hidup, pindah rumah misalnya. (hemm.. ya ya ya..)
- Lingkungan yang ramai sehingga tidak nyaman untuk tidur (nda juga nih, lingkungan ane sepi)
- Penyakit yang menyebabkan nyeri, sesak nafas atau sering buang air kecil (hemm....)
- Pertambahan usia (yup mau nambah jadi 25)
- Cemas dan depresi (mungkin juga nih)

Bagaimana cara mengatasi dan apa yang harus dilakukan?

- Usahakan untuk tidur pada jam yang sama setiap malam (nah inilah faktor utama ane fiuh)
- Pastikan tempat tidur nyaman dan suhu ruang sesuai kehendak
- Jangan memikirkan masalah kehidupan sehari-hari, sisihkan masalah anda. (lg nda ada masalah)
- Olahraga ringan pada sore hari bisa membantu, tetapi jangan melakukanya saat sebelum tidur.
- Hindari minum kopi, alkohol, atau merokok sebelum tidur. (nda doyan)
- Hindari kebiasaan tidur siang (nda pernah tidur siang juga)
- Jika masih tidak bisa tidur, jangan hanya berbaring dan mencemaskanya. - Bangun untuk membaca buku, mendengarkan musik lembut, minum susu hangat, dan kemudian coba tidur kembali. (ga ngefek)
- Jika berlangsung setiap malam dan mengganggu aktifitas sehari-hari, hubungi dokter...

fiuh! KAYAKnya besok mau beli 'LELAP' aja deh... *promosi mode on
semoga kalian tidak terkena insomia ya..
selamat istirahat

Kamis, April 15, 2010

KOSAN - KONTRAKAN


Menjadi anak kosan. Pasti anda ingat dg lagunya p-project, "beginilah nasip anak kos"... Jauh dari orang tua, harus berfikir jika uang habis, harus mencuci pakaian sendiri, masak sendiri, huft apa-apa sendiri. Memang manfaatnya sangat baik untuk pengembangan diri kita,khususnya kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab.

Seharusnya jika menjadi anak kosan kita harus benar-benar mengatur kegiatan kita, dan tentunya mengatur pengeluaran-pemasukan keuangan kita. Hehe dasar karena diriku boros, kadang akhir bulan sudah habis, huft :( mw tdk mau kontak ke rumah juga untuk meminta kiriman, padahal seharusnya kita lah yang mengirim ke rumah karena sudah bekerja.

Sudah lebih satu tahun saya hidup menjadi anak kosan, atau lebih tepatnya anak kontrakan. Diawali 3 bulan saya tinggal di radio dalam jaksel bersama anak-anak PLN Pusat kawan-kawan dari mas Oji, karena memang waktu itu kantor ane di Lebakbulus Jaksel. Banyak kenangan disana, suka dan duka dilalui.
Yang jelas disanalah, mas Oji bisa dekat dg Wulan sodaranya pacarku waktu itu Nina, dan diriku harus putus.hehehe Ya tak doain mas oji dan wul cepet nikah deh :)

Kemudian bulan Februari 2009, karena kantor saya dipindah ke Joglo Jakbar, maka mau tdk mau saya pun harus mencari yang dekat dengan kantor. Beberapa hari mencari akhirnya dapat juga, yakni rumah petak. Awalnya memang enak, tp lama kelamaan tidak nyaman. Bau yang tidak sedap dari belakang rumah, hingga tetangga yang suka ketok-ketok rumah dikira sy menggunakan air. Huft.. Tapi dikos tsb àϑá kenangan tentang cinta, disana saya jadian dg astari adek angkatan di kampus dulu. Hehe meskipun kandas juga bulan februari 2010 lalu. Huft. :(

Karena sudah tidak betah, Saya pun pindah ke kontrakan yang baru. Yakni di perum puri bintaro hijau Tangerang. Cukup jauh memang dari kantor,tapi tidak masalah yang penting kenyamanan dan ketenangan. Saya berdua bersama rasito,jadi tidak terlalu berat dalam hal pembayaran. Didepan àϑá masjid pula, jd bisa solat jamaah terus. :)

Àϑá cerita yang tdk bisa dilupakan yakni pada Saat idul adha yang lalu, karena kita berpikir masjid didepan rumah, jam 6 kita masih nonton tv, 15 menit kemudian baru kita kluar rumah dan ternyata WOW, jamaahnya sdh sampe depan rumah.xixixi malu kita itu, masjid dekat tp malah telat.

Awalnya rumah ini ramai sekali, banyak kawan-kawan yang bermain disini, tapi sejak bisnis hancur, sepi. Terlebih rasito pindah kerjaan dan harus meninggalkan rumah. Jujur saya kesepian. Bermain pe es hanya sendiri, tidak àϑá kawan ngobrol, padahal saya butuh teman. Disaat saya sedang àϑá dibawah,dg bisnis yang gagal,percintaan kandas, dan sakit tipes+dbd, saya butuh second opinion dari teman. Selain itu, tentunya juga mengeluarkan biaya kontrakan sendiri. Huft..

Orang tua pun memberikan masukan untuk pindah. Awalnya agak males,knp? Karena males bawa barang2nya, disini sudah nyaman,dll tapi sekarang berpikir kayaknya iya harus pergi saja. Terlebih disini saya punya trauma tersendiri. Ditempat inilah saya kehilangan beberapa hal, bisnis, sahabat, dan yang masih terluka hati ini adl kehilangan kekasih. Ck ck ck sebegitunya yah :)

Saya tidak tau akan pindah kemana lagi. Kemaren saya ketemu Rasito, agar tinggal bersama dia saja di kawasan rawa buaya jakbar. Sebenarnya saya cukup tertarik, tapi àϑá hal yang membuat saya berpikir ulang Karena dekat dg daerah duri kosambi. Daerah tersebut merupakan tempat kosan mr X anak stt PLN yang menjadi pengalaman yang tidak mengenakan. Membuka luka dan trauma klo dengar atau melihat daerah tersebut.

Yah, cari yang lain saja. Tempat yang baru. Dengan tujuan membuka kehidupan baru. Menutup hal-hal yang buruk. Bisa jadi saya ngekos di daerah depok, jika S2 saya jadi tahun ini. Atau diderah tangerang, karena saya ingin belajar ilmu agama di ponpes milik Yusuf mansyur.

Yup merasa kesepian, dan trauma atas banyaknya masalah yang dtg yang membuat saya ingin pindah. Tapi pak Parlindungan Marpaung yang merupakan psikolog memberikan nasehat,kata dia Terkadang hidup ini terasa begitu tertekan dg permasalahan yang bertubi-tubi,yang setiap harinya dirasa cukup berat saja. Akan tetapi bukankah setiap masalah yang àϑá dapat dijadikan batu pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi mar?

Kita juga tidak bisa terus-menerus menyesali apa yang terjadi, sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang àϑá. Kita harus mengubah cara pandang kita terhadap suatu masalah, dengan begitu akan ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tdk ditemukan sebelumnya.

Ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak akan terulang lagi. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang trjadi pada dirinya.
'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan yang dimilikinya lepas. Emas akan tampak benar-benar emas setelah melalui pengujian api, bukan ketika dia diletakan sebagai perhiasan baru.

Masukan positif yang cukup mengena dihati. Seseorang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan dilihat dari kekayaan atau jabatan yang tinggi, bukan pula dari pernyataannya yang muluk-muluk, dan bukan pula dari kekuasaan yang dimilikinya, melainkan dari dapur api pengujian hidup.

Mantab!! Semoga anda selalu sukses!!

kesalahan dalam berbisnis

Berbisnis atau berwirausaha itulah tujuan saya nantinya. Darah dari orang tua yang memang seorang wirausahan menurun kepadaku maskipun saat ini saya masih menjadi pekerja biasa disuatu perusahaan swasta di Jakarta.

Ya saya akui, memiliki minat dan bakat dalam membuka bisnis. Kemampuan dalam menjual sudah teruji saat menjadi sales dulu,kemampuan promosi sudah terlatih saat bekerja di kalbe sebagai tim promosi. Sifat pemimpin terlatih juga saat berorganisasi baik di kampus ataupun masyarakat. Dan lain sebagainya. Bisnispun sudah saya mulai sejak kecil hingga kuliah. Namun saat diJakarta ini, entah krn blm mengetahui daerahnya, saya blm berbisnis, padahal berbisnis itu membuat kita kaya. Bisa membuat lapangan utk kawan2 kita yang belum bekerja.

Buku-buku bahkan seminar dan dialog tentang bisnispun sudah diikuti. Ide-ide bisnispun bermunculan,akan tetapi pertanyaannya kenapa hingga saat ini belum juga terwujud? Apakah karena trauma atas kegagalan bisnis yang sudah dilalui? Ketakutan akan kerugian yang akan ditanggung lagi seperti saat itu, yang menguras tenaga, pikiran dan tidak sedikit uang yang harus ditanggung.

Entahlah. Meskipun berbisnis sudah tidak asing, namun kegagalan-kegagalan ini membuat sedikit trauma tersendiri. Bahkan keluarga dan sahabat menyarankan agar saya tidak berbisnis terlebih dahulu utk beberapa waktu. Mungkin mereka kasihan dengan kondisi saya yang berada di bawah dan sedang menjadi seseorang yang hanya memiliki harta 'nol' bahkan kadang 'minus'.haha

Akan tetapi dalam buku harian saya selalu saya tulis pengalaman kegagalan-kegagalan,sehingga bisa dievaluasi apa kesalahannya? Apa yang dibutuhkan saat ini dll? Ya saya tidak akan mundur. Kalo kata mario teguh, kita membutuhkan kesalahan untuk mencapai kualitas hasil yang lebih tinggi. Terimalah kemungkinan akan adanya kesulitan, masalah dan kesalahan. Jika kita bersungguh-sungguh bekerja keras, sebetulnya juga sedang bersungguh-sungguh menyediakan kesempatan bagi timbulnya kesalahan.

Timbulnya kesalahan dan kegagalan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik. Bahkan àϑá pepatah mengatakan "melakukan kesalahan bahkan kegagalan dalam melakukan sesuatu yang berguna adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun".

Saya dalam membuka bisnis, tidak pernah hati-hati dan teliti, hanya analisa simple,jika pasar bagus,produk bagus,langsung berani jalan saja dah!! Haha tertanya gagal. Akan tetapi tidak sedikit pula kawan yang sangat teliti,hati-hati membuat bisnis plan,perencanaan matang melakukan analisa dan review berulang-ulang tetapi tidak berani memulai karena takut gagal. Sepertinya saya butuh partner yang seperti itu ya.hehe

Ya saya mengerti sekarang, tak perlu risau jika mengalami kegagalan. Semua pengusaha sukses pernah mengalaminya. Bedanya dg mereka yang tidak sukses adalah mereka selalu cepat melompat ketika terjatuh. Pelajari kesalahan secara sungguh-sungguh hingga perbaikan diwaktu berikutnya lebih bermakna.

Saat di Purwokerto beberapa waktu yang lalu, Saya terinspirasi dg ponakan yang masih berusia 9 bulan, dia tidak menangis saat jatuh dalam berlatih berdiri dan berjalan. Dia mencoba,mencoba,mencoba terus. Saya yakin dia punya naluri untuk memperbaikinya. Kenapa saya tidak demikian? Kenapa saya mundur hanya karena gagal? Kenapa harus menjadi yang lemah tekad dan semangatnya?

Menurut andri wongso,dari pengalamannya sebagai wirausaha bertahun-tahun, memulai bisnis tidak harus dg modal uang. Namun, dengan tekad,semangat, dan kemauan belajar disertai pergaulan yang baik, akan menjadi modal yang sangat berharga,lebih dari sekadar uang.

Saat ini saya kembali memulai bisnis sederhana menjual kerudung, sambil bekerja sebagai seorang jurnalis di elshinta Jakarta. Namun saya juga sudah menyiapkan beberapa bisnisplan yang cukup besar juga. Mumpung masih berusia 24 tahun, kita prihatin dulu tapi 5 thn kedepan sudah menikmati hasilnya. Kita buat jalur airnya dulu, dg keprihatinan dan tekad yang kuat. Waktu tertentu pasti kita akan menikmati air yang melalui jalur yang kita buat itu.

Brad Sugar, seorang pengusaha sukses Australia mengatakan, kesuksesan kita 5 tahun mendatang tergantung pada buku apa yang anda baca saat ini,training dan seminar serta orang-orang yang anda kenal saat ini.

Salam mantab! Semoga anda selalu sukses!!

Minggu, April 11, 2010

Saya dan Sepak bola.. raih kemenangan :)

Sepak bola olah raga yang cukup digemari dibelahan dunia ini, dalam hidupku sudah tidak asing lagi. Saya mengenal sepak bola karena babeh yang suka menonton sepak bola di televisi. Selain itu lingkungan di rumah dan sekolah yang memaksa mau tidak mau harus kenal sepakbola. Sejak kelas 4 SD, saya sudah ikut klub sepakbola Indonesia Muda (IM) di berkoh Purwokerto saat itu.

Yup berawal dari situlah, mulailah pertandingan demi pertandingan,desa demi desa,lapangan demi lapangan, dari yang didesa,sampai yang berada diluar kota mulai saya jalani.dan tentunya dari satu klub,ke klub lain sudah tidak terhitung berapa tim yang sudah sempat saya bela.hehe bukan karena saking banyaknya tapi lupa nama2nya. :) Kenalan pun mulai saya dapatkan,dari yang sudah bapak2 sampai yang jauh lebih muda,bahkan wanita..hehe sok laku mode on.

Dari pengalaman itulah, banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Bukan hanya sehat saja,namun jauh lebih besar. Banyak masalah dengan teman satu tim,pelatih,manager..hihi klo di indonesia istilah akrabnya pengurus, itu sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan pernah, hanya gara-gara saya nyletuk,"ah payah masa gitu saja sudah lemes" temanku yang akrab menjadi diam seribu bahasa dan menjauh sampai beberapa bulan..huft memang lidah ini harus dijaga ya. Bukan hanya perselisihan dg tim saja,tapi juga dengan tim lawan,dan wasit serta penonton.

Pernah saat itu saya ikut kompetisi di lapangan bobosan purwokerto,lawannya mana sy sudah tidak ingat. Saat itu menjadi bek tengah, strikernya bener2x sulit sekali untuk dijaga. Tapi hanya dg membuat sedikit emosi ke dy dg berbagai cara dy terpancing. Hasilnya great!! :) setiap dy lolos dan tinggal berhadapan dg kiper tendangannya selalu melenceng atau terlalu ke atas. Haha emosi memang tidak baik ya, efeknya Gªĸ menyenangkan. Tapi dari situ juga, tawuran pun tak bisa dielakan..huft ngeri cing klo penonton dah ikut2an.

Yang lucu,adalah saat itu saya mencaci wasit saat kompetisi sepakbola di kampus. Eh beberapa bulan kemudian saya ketemu beliau tyt kerja di tempat yang sama. Dan menjadi teman satu tim saat membela tim extra joss purwokerto, jago lho mainnya..haha memang lidah dan sikap ini sangat perlu sekali dijaga. :) jadi Gªĸ malu kalo pas udah baikan.hehe

Banyak sekali cerita masalah yang dihadapi saat aktif di sepakbola. Menjadi kapten,pengurus, yang mau tidak mau kita harus jaga anak-anak kita,jaga relasi,tidak boleh emosi,dan tentunya harus siap duit yang cukup banyak.haha kadang gaji sy kerja sambilan saat itu, dihabiskan hanya utk biaya perjalanan pertandingan. Tapi Gªĸ papa toh hati menjadi senang.

Àϑá beberapa hal yang sangat membekas dihati ini dan merubah sikap saya. Karena sepak bola, saya menjadi orang yang pantang menyerah,terus berusaha sampai waktu habis,selama belum usahakan terus pasti àϑá peluang utk mencapai kemenangan. Kemudian dalam hal komunikasi,interpersonal skill, menjadi lebih baik.menghormati dan mempercayai kawan dg kemampuannya karena kita bekerja secara tim.

Sportifitas selalu saya junjung, bersaing menjadi yang terbaik dg cara yang sehat dan menerima segala keputusan dg senang hati. Merasakan tidak enaknya kekalahan, mencicip bahagianya meraih gelar juara. Yah, berlatih,berlatih, action,action,trs berusaha menjadi yang terbaik. Pantang menyerah untuk selalu menjadi yang terdepan. Prihatin dlu utk meraih kemengan.kemenangan yang bukan utk diri sendiri saja tentunya, tetapi untuk tim,untuk keluarga,dll.
Kemenangan dunia akherat.kemengan hidup kita, untuk menjadi yang terbaik dihidup kita yang pendek ini. :)

Ayo semangat!! Raih kemenanganmu kawan!! Salam.

kasus tvone,polisi,dan markus aspal

“...aku matiin HP karena aku dicari pimpinan. Aku nggak berani ke kantor pusat di Pulogadung (Kantor TVOne) karena didesak pimpinan disuruh buka identitas kamu. Aku menolak, jelas bukan dari saya. Saya nggak kasih tahu apapun soal Abang.” (detikcom, 9 April 2010, 16:35 WIB).

Dari sekian banyak dimensi dalam kasus ini, bagian inilah yang paling menarik perhatian saya. Itulah isi komunikasi melalui Blackberry antara Andris Ronaldi dan presenter Tv One, Indy Rahmawati, yang dibuka kepada umum oleh Polri dalam sebuah jumpa pers, 9 April 2010.

Andris Ronaldi adalah narasumber Tv One dalam acara talkshow “Apa Kabar Indonesia” (AKI) yang ditayangkan 24 Maret 2010. Dengan wajah tertutup, Andris yang diwawancarai presenter Indy Rahmawati, dikenalkan sebagai salah seorang makelar kasus (markus) yang aktif di lingkungan Mabes Polri. Tak lama kemudian, Mabes Polri mengumumkan bahwa narasumber Tv One itu palsu, sehingga “Bang One dan kawan-kawan” diadukan ke Dewan Pers. Setelah acara talkshow itu, polisi memang berusaha mencari identitas dan keberadaan Andris, hingga akhirnya ditemukan. Kepada polisi lah, Andris bernyanyi bahwa ia dijebak Tv One untuk mengaku sebagai markus demi kepentingan talkshow.

Tentu saja Tv One membantah. Dalam sebuah jumpa pers, jajaran redaksi mengatakan akan menggugat balik bekas narasumbernya itu. Tapi di saat yang sama, redaksi juga meminta maaf yang “sebesar-besarnya bila institusi Polri dan Bapak Kapolri terganggu” (detikcom, 9 April 2010, 17:36 WIB).

Bila benar susbtansi pesan tersebut –bahwa Indy diminta pimpinan di redaksi untuk membongkar jatidiri narasumbernya, dan ia tidak sedang membual kepada Andris, maka ini adalah indikasi pelanggaran jurnalistik yang tak kalah serius. Ini harus menjadi bagian penting yang diklarifikasi oleh Dewan Pers saat memanggil awak redaksi Tv One.

Potongan isi SMS tersebut memang masih bisa ditafsirkan dua hal: pertama, pimpinan Tv One meragukan kredibilitas narasumber bawahannya, dan berupaya memverifikasi sendiri; atau kedua, pimpinan Tv One sedang membantu seseorang atau institusi yang berusaha menemukan identitas narasumber yang seharusnya justru mereka lindungi.

Sumber Anonim

Bagian ini juga bisa digunakan sebagai pintu masuk untuk mengurai polemik dugaan markus palsu di Tv One. Bila pimpinan Tv One pernah mendesak agar Indy membuka indentitas narasumbernya untuk tujuan verifikasi, maka sesungguhnya sistem di redaksi sudah bekerja dengan baik. Mereka sudah mendeteksi masalah kredibilitas Andris sebagai narasumber anonim dalam talkshow tentang markus. Hal ini mestinya disampaikan kepada publik saat para juranlis Tv One menggelar jumpa pers, 9 April lalu.

Tapi sejauh ini, hal tersebut tidak muncul. Bahkan, seperti diakui General Manager Tv One, Totok Suryanto, Andris sudah berkali-kali menjadi narasumber Tv One seperti di program AKI Pagi (18 Maret 2010), Nama dan Peristiwa, bahkan talkshow Jakarta Lawyers Club yang (biasanya) dipandung langsung Pemimpin Redaksi Karni Ilyas. Dus, kecil kemungkinan pimpinan Tv One “mengejar-ngejar” Indy Rahmawati agar memberikan nomor telepon Andris untuk kepentingan verifikasi.

Sehingga saya beranjak pada dugaan kedua, bahwa isi SMS yang terjadi pada 25 Maret 2010 itu, justru mencerminkan adanya upaya malpraktik jurnalistik yang dilakukan atasan Indy, untuk mengkhianati integritas jurnalisnya sendiri. Pimpinan Tv One patut diduga sedang membantu seseorang atau institusi yang berkepentingan dengan jatidiri si narasumber anonim itu.

Sebelum kasus ini muncul ke permukaan, Andris Ronaldi secara jurnalistik berstatus sumber anonim. Narasumber yang jatidiri dan keberadaannya wajib dilindungi oleh redaksi. Karena kewajiban inilah, maka redaksi memiliki konsekuensi menanggung semua akibat yang timbul dari informasi yang disampaikan oleh sumber tersebut. Bila seorang wartawan setuju untuk menggunakan sumber anonim, maka tanggung jawab sudah diambil alih olehnya. Termasuk konsekuensi bila ternyata si narasumber adalah penipu.

Karena konsekuensi yang tak ringan inilah, maka dalam praktik jurnalistik, sumber anonim tak bisa digunakan sembarangan. Ketika Bob Woodword dan Carl Bernstein membongkar skandal Watergate yang melibatkan Presiden Richard Nixon di era 1970-an, mereka juga menggunakan petunjuk-petunjuk yang diberikan seorang sumber anonim dengan nama “Deep Throat”. Tapi tak setiap keterangan Deep Throat ditelan mentah-mentah. Editor The Washington Post, Ben Bradlee, saat itu menerapkan kriteria yang harus dipatuhi Woodword dan Bernstein. Agar keterangan Deep Throat layak muat, maka harus didukung oleh “deep throat” lain yang tak saling terkait.

Woodward dan Bernstein memilih bungkam selama 30 tahun untuk menyembunyikan identitas narasumbernya, hingga pada bulan Mei 2005, pensiunan Wakil Direktur FBI, William Mark Felt mengaku bahwa dirinyalah sang Deep Throat. Pengakuan itu disampaikan dalam sebuah wawancara di majalah Vanity Fair yang bahkan mengejutkan bagi kedua wartawan itu sendiri.

Begitulah wartawan menjaga kerahasiaan narasumbernya. Bila seorang jurnalis punya reputasi berkhianat, maka kredibilitasnya tamat, dan tak ada lagi narasumber yang bersedia membantunya (sampai hari kiamat). Pimpinan di redaksi yang biasanya adalah jurnalis senior, mestinya jauh lebih memahami hal-hal seperti ini, dan tidak terlibat dalam persekongkolan dengan pihak manapun untuk mengkhianati sumber dan mengorbankan wartawannya sendiri.

Menggugat Narasumber

Saya kira banyak yang salah menafsirkan ketika redaksi Tv One bermaksud menuntut Andris Ronaldi. Sejauh yang saya pahami, redaksi Tv One tidak menuntut Andris karena telah menjadi narasumber palsu, melainkan karena telah menuding televisi itu melakukan rekayasa. Ada dua hal yang secara substansi perlu diverifikasi dari pengakuan Andris: Pertama, dia mengaku dijebak. Andris mengaku, semula ia diundang untuk menjadi narasumber dalam topik seputar Tenaga Kerja Indonesia (TKI), tapi kemudian dibelokkan menjadi isu markus. Kedua, dia mengaku diminta menghafal skenario tanya-jawab yang sudah disiapkan tim Tv One tentang peran markus di Mabes Polri.

Keterangan Andris ini memang bertabur kejanggalan, dan Dewan Pers mestinya dengan mudah memverifikasinya. Sejauh informasi yang beredar di media massa, Andris Ronaldi adalah humas sebuah klub penggemar motor bermesin besar (moge). Dia juga disebut-sebut pernah bekerja sebagai penjual alat-alat kesehatan, karyawan perusahaan pembiayaan, bahkan punya bisnis periklanan. Di atas kertas, sebagai jurnalis, saya belum melihat sedikitpun kompetensi Andris dalam topik ketenagakerjaan, terutama TKI. Karena itu perlu diuji, misalnya dengan menanyakan singkatan BNP2TKI. Tak semua jurnalis atau anggota Dewan Pers hafal singkatan itu. Tapi sebagai narasumber topik TKI, mustahil Andris tak hafal luar kepala.

Kedua, pengakuan bahwa redaksi Tv One menyiapkan skenario pertanyaan dan jawaban memang kurang masuk akal. Bukan karena ruang redaksi media dijamin steril dari kebohongan dan rekayasa, melainkan karena konteks topiknya, yakni markus di Mabes Polri. Sebab, wartawan sendiri bukan malaikat yang tak tergoda membikin rekayasa. Justru semakin besar kasusnya, makin besar pula godaan untuk melakukan kebohongan.

November 2006, koran besar Jawa Pos tersangkut skandal wawancara palsu istri tersangka teroris Dr. Azhari. Wawancara eksklusif via telepon itu ternyata bodong sebab istri alarhum Azhari ternyata tak bisa berkomunikasi dengan baik. Ada gangguan pada pita suaranya yang tak memungkinkannya berbicara secara jelas dan lugas dalam komunikasi verbal tatap muka, konon lagi melalui telepon.

Jadi, bila saya menganggap skenario tanya jawab yang disebut-sebut Andris itu kurang masuk akal, bukan karena saya percaya sepenuhnya integritas para jurnalis Tv One (terutama setelah berita yang fatal tentang fakta kematian Noordin M Top), tapi karena topik ini telalu sensitif secara politik bagi ruang redaksi.

Siapa yang tak tahu bahwa televisi ini kerap mendapat akses khusus untuk topik-topik liputan yang berkaitan dengan polisi, terutama terorisme. Akses dibangun dari lobi institusi, ketekunan individu, bahkan dalam kasus tertentu “jurnalisme transaksional” (dimulai dari hal sepele seperti menyebut “gugur” untuk anggota polisi, dan “tewas” untuk teroris).

Dengan dependensi yang seperti ini, saya ragu Tv One berani “cari gara-gara” dengan merekayasa talkshow tentang markus yang bergentayangan di Mabes Polri. Dus, saya memang ragu dengan keterangan Andris, sebab yang paling diuntungkan dengan pengingkaran ini sejatinya adalah Mabes Polri sendiri. Bila publik bisa diyakinkan bahwa Andris adalah narasumber bodong, maka selamatlah wajah korps Polri yang baru saja kehilangan dua jenderalnya dalam kasus Gayus Tambunan itu.

Permintaan Maaf Itu

Satu lagi indikasi bahwa Tv One mustahil “cari gara-gara” dengan merekayasa talkshow tentang polisi, adalah fakta bahwa redaksi televisi ini langsung meminta maaf kepada polisi atas munculnya masalah ini (9 April 2010). Logika orang ramai lantas dipenuhi pertanyaan: Meminta maaf atas apa? Karena telah menampilkan narasumber palsu? Atau justru karena telah memberitakan fakta?

Saya menganggap permintaan maaf ini “tak jelas jenis kelaminnya”. Bila Tv One meminta maaf karena menampilkan narasumber palsu, maka permintaan maaf itu lebih tepat ditujukan kepada jutaan pemirsanya, daripada untuk polisi. Publik lah—pemilik sah frekuensi yang dipinjam kelompok usaha Bakrie—yang paling dirugikan dengan penyesatan informasi, bukan semata-mata Polri. Filosofi jurnalisme yang mengabdi pada kepentingan publik (juga konsep tentang televisi terestrial) agaknya sudah tertimbun oleh hasrat untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu demi menjaga hubungan baik. Dengan cara pandangan seperti ini, tak heran bila publik dilupakan dan bisa jadi wartawan sendiri pun dikorbankan.

Lantas kemungkinan kedua juga tak kalah ganjilnya. Bila talkshow itu memang faktual, lalu untuk apa Tv One meminta maaf pada polisi? Saya duga, permintaan maaf itu untuk menjaga hubungan baik dengan institusi Polri. Itu berarti Tv One bersikukuh bahwa Andris adalah narasumber kredibel alias markus di Mabes Polri, tapi mereka tetap meminta maaf bila berita itu menganggu tidur nyenyak para petinggi mabes. Bila ini benar, maka bagi saya ini adalah praktik “jurnalisme hamba sahaya”. Dalam struktur sosial yang feodal, seorang bawahan yang sebenarnya tak merasa bersalah, bisa saja tetap minta maaf kepada atasannya bila ada situasi-situasi yang membuat atasannya tak enak hati. Tugas jurnalisme adalah mengungkap fakta, dan tidak ada urusan apakah seorang jenderal bisa tidur atau tidak setelah hal itu diberitakan.

Bila benar ini cara berpikir jajaran pimpinan Tv One, maka agar adil, sebaiknya redaksi melakukannya setiap hari kepada setiap individu atau institusi yang menjadi obyek pemberitaan mereka. Tv One harus sering-sering mengatakan: “Redaksi yakin bahwa berita korupsi ini benar, tapi kami meminta maaf bila Anda terganggu dengan pemberitaan ini”.

Menyoal Kewenangan Polisi

Di sisi lain, dibukanya percakapan pribadi antara Andris Ronaldi dan Indy Rahmawati oleh polisi sesungguhnya bisa menimbulkan implikasi hukum. Kecuali tindakan mereka adalah persekongkolan pidana, maka tak ada hak apapun dari polisi untuk mengumumkannya kepada publik. Saya catat sudah dua kali polisi melakukan tindakan semacam ini. Yang pertama, dialami wartawan majalah Tempo, Metta Dharmasaputra, saat menekuni kasus skandal pajak Asian Agri (2007).

Polisi harus bertanggung jawab atas tersebarnya print out SMS Metta yang notabene adalah wartawan yang sedang bertugas menjalin kontak dengan mantan karyawan Asian Agri bernama Vincentius Amin Sutanto. Dalih polisi bahwa mereka sedang memata-matai Vincen (dan kemunculan telepon Metta tak terhindarkan) , terbantahkan oleh fakta bahwa print out yang beredar bukan isi SMS Metta dengan Vincen, melainkan dengan pihak lain.

Dalam kasus Tv One, selain tak punya kewenangan menyebarluaskan isi SMS Indy-Andris—karena pembicaraan mereka berdua belum tentu relevan untuk diketahui publik—dalam kasus ini, institusi polisi sesungguhnya hanyalah pihak yang terkait pemberitaan semata, bukan institusi penegak hukum. Kebetulan saja Andris mengaku sebagai markus di Mabes Polri, sehingga ketika polisi bereaksi, kita menganggapnya sebagai tindakan aparat hukum. Padahal, sekali lagi, hal itu hanya kebetulan belaka. Bagaimana bila Andris adalah markus di lembaga lain yang tak punya kewenangan menyadap, membuntuti, menginterogasi keluarga, atau menangkap? Tidakkah tindakan itu justru harus dilaporkan ke polisi?

Kita perlu meluruskan logika, sebab dalam kasus ini, polisi jelas gagap membedakan antara dirinya sebagai lembaga hukum, dan (katakanlah) dirinya sebagai korban pemberitaan. Sebagai korban pemberitaan, polisi harus tunduk pada UU Pers dan UU Penyiaran, dengan menyerahkan kasus ini untuk diinvestigasi oleh Dewan Pers atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Polisi sebagai korban pemberitaan, tak boleh bertindak sendiri menciduki narasumber, mentang-mentang memiliki organ untuk melakukannya.

Polisi bisa melaporkan indikasi bahwa narasumber tersebut palsu ke Dewan Pers, tapi tak bisa mencari-cari Andris karena telah menjadi narasumber di Tv One. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga hukum, polisi atau barangkali lebih tepat Propam Mabes Polri, bisa memproses Andris dalam konteks menindaklanjuti pengakuannya sebagai makelar kasus (sebagai saksi). Sebab yang harus didahulukan untuk diusut adalah para pejabat polri yang terindikasi terlibat permainan kasus, dan bukan whistleblower- nya.

Bila hasil penyelidikan ternyata nihil, maka secara hukum, Andris harus dilepas dan Polri bisa membuka kasus baru gugatan pencemaran nama baik kepada Andris dan Tv One karena pemberitaan yang merugikan korps mereka. Dan kasus ini bisa masuk dalam wilayah perdata, bukan semata-mata pidana.

Bila Andris memang bukan markus, maka tindak pidana apa yang ia langgar? Keterangan palsu? Bukankah keterangannya tidak di bawah sumpah sebagaimana layaknya di pengadilan? Bukankah ini kasus pencemaran nama baik lazimnya, yang mungkin melibatkan media dan bisa diselesaikan di jalur perdata?

Dus, tindakan polisi menyita berbagai berbagai kelengkapan kerja jurnalis dan naskah-naskahnya, adalah proses hukum yang sangat membingungkan bagi saya. Dewan Pers atau KPI harus menolak bukti-bukti itu dari tangan polisi, dan memintanya sendiri dari tangan para pihak yang akan dimediasinya.

Dewan Pers atau KPI sebaiknya melakukan langkah-langkah yang sistematis dan terstruktur untuk mengurai benang (yang dibuat) kusut ini. Pertama, Dewan Pers atau KPI harus fokus pada mandatnya, yakni memverifikasi pengaduan masyarakat (dalam hal ini Polri) atas tuduhan rekayasa berita. Dewan Pers atau KPI harus mengaudit metodologi jurnalistik yang digunakan Tv One untuk menemukan narasumber anonim markus yang belakangan ternyata adalah Andris Ronaldi. Dari sanalah bisa dibuktikan, siapa yang membohongi siapa.

Kedua, Dewan Pers atau KPI harus menginvestigasi apakah redaksi Tv One terlibat pembocoran identitas sumber anonimnya kepada pihak lain, dan memastikan bahwa Indy Rahmawati atau Andris Ronaldi, tidak dalam posisi terintimidasi untuk menyeleraskan dengan “skenario” korporasi atau institusi tertentu.

Ketiga, Dewan Pers atau KPI harus mendesak Polri agar tidak gampang main pasal pidana dalam kasus ini.

Keempat, Dewan Pers atau KPI, harus merumuskan sanksi yang jelas dan tegas bila ternyata ada malpraktik jurnalistik dalam kasus ini, dan mengumumkannya kepada publik segamblang-gamblang nya, termasuk mengumumkan metodologi yang dipakai dalam menangani kasus ini agar transparan dan akuntabel.

Anggota Dewan Pers dan KPI yang di antaranya adalah para jurnalis senior, seyogyanya tetap obyektif dan berpihak pada publik, dengan tidak terjebak suasana “psikologi perkawanan” dengan elit-elit media yang sedang diperiksanya. (*)

Oleh Dandi dwi laksono Dewan Pengawas LBH Pers, Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Sabtu, April 10, 2010

Ujian ini membuatku belajar

Awal tahun 2010 yang terbayang olehku adalah kesuksesan. Wajar dan pasti dong ya, semua orang pasti akan berpikir demikian. Dan memang ternyata kesuksesan demi kesuksesan terus kudapatkan. Dari mulai bisnis yang mulai menampakan hasilnya sedikit demi sedikit tapi pasti, pekerjaan yang semakin bisa menguasai, mau topik apa saja dengan mudah saya pelajari,hubungan dengan pacar yang àϑá di cirebon waktu itupun juga semakin baik,dalam serta serius dan kesuksesan-kesuksesan lainnya.

Sampai pada bulan februari khususnya setelah hari valentine (14 februari 2010) yang bertepatan jg dengan tahun baru imlek, diriku diramal oleh kang hok kyan, dan jawabannya adalah sukses diberbagai bidang ditahun ini. Mendengar hal itu, langsunglah percaya diri semakin bertambah. Pergi ke Cirebon untuk silaturahmi,hingga malam meskipun tidak tidur karena masuk dinihari, tak bela2in.. Demi lah.‎​♓έ♓έ♓έ sok anak muda mode on.

Dari situlah, ujian demi ujian datang silih berganti. Mulai dari bisnis-bisnisku yang mulai merugi karena seseorang, sehingga mau Gªĸ mau, saya harus menanggung lerugian tersebut. Gadai motor! Cara paling aman dan mudah "mengatasi masalah tanpa masalah katanya".hehe Dan ujian2 lain, mulai kerjaan dan sebagainya datang menghampiri meskipun tak sikapi dengan solusi yang jitu. Hingga suatu saat pada tanggal 28 februari 2010.. Ujian cukup berat menurutku, ak diputusin. Huft.. Dg alasan yang mungkin tidak akan saya sampaikan ke siapapun. Hanya utk diri sendiri aja. Huft memang benar ya kata pepatah, lelaki itu lemah krn tiga hal, jabatan,harta dan wanita.

Tapi ya sudah lah.. Diikhlaskan saja, toh rejeki,jodoh dan mati itu rahasia alloh. Yang penting kita harus jd orang pemaaf dan jangan sampai memutuskan silaturahmi. Biarkan beliau bahagia dengan pilihannya :)

Ujianpun belum berhenti sampai disitu,masih banyak sekali. Mulai dari kekurangan biaya untuk tes toefl yang asli utk persyaratan beasiswa dll,meskipun masih bisa teratasi. Sampai akhirnya diriku jatuh sakit. Sakit yang tidak biasa tipus dan demam berdarah. Ya Alloh, sakit itu ternyata tdk enak. Tdk enak makan, tdk enak tidur dan tentunya tdk enak di dompet. Yah berharap inilah ujian yang bisa merubah sikapku.

Sekarang saya sadar bahwa Bersedih itu hanya akan memadamkan kobaran api semangat, meredakan tekad, dan membekukan jiwa. Dan kesedihan itu ibarat penyakit demam yang membuat tubuh menjadi lemas tak berdaya. Mengapa demikian??
Tak lain krn kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakan.

Dan percaya lah bahwa Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri anda dg rabb, akn mengajarkan kpd anda bgmn berdoa, dan akan menghilangkan kesombongan,ujub, dan rasa bangga diri dari diri anda.

Ketahuilah, bahwa kesulitan itu akan membuka pendengaran dan penglihatan, menghidupkan hati,mendewasakan jiwa, mengingatkan hamba dan menambah pahala.

Itu yang saya alami, mungkin saat berada diatas,diberi kenikmatan solat saya tidak khusyu, berdoa kurang, bisa mengarah le sombong dll. Kejadian ini membuat saya sadar, kenapa harus pusing untuk duniawi orientid?? Cape pikiran,hati,dll. Ketenangan jiwa itulah yang dicari. Untuk anda yang sudah mengalami hal itu, pasti akan sepakat dengan statment saya.

Saat ini, saya hanya ingin menjadi pribadi yang baru. Yang tidak lagi bercita-cita menjadi orang terkenal dan kaya raya duniawi, tapi ingin bercita-cita menjadi hafidz, ya minimal juz 30 lah (agak berat emg sih),menjadi orang yang baik ilmu agamanya, masalah duniawi tetap dilaksanakan tapi tidak begitu ngoyo. Mencari ilmu sebanyak-banyaknya mungkin akan bermanfaat nantinya, saya percaya itu. Bersyukur,dan selalu optimis dengan takdir yang diberikan alloh. Karena sutradara kehidupan yang maha besar,yang tau apa yang hambanya butuhkan, bukan inginkan hanyalah alloh swt. Semoga crita ini bisa untuk pelajaran untuk kita semua. Amin

reuni itu utk silahturahmikan??

Beberapa waktu yang lalu saat mudik ke Purwokerto, ane bertemu dengan beberapa teman kuliah yang memang bekerja dikota itu. Kami pun saling mengobrol dari obrolan serius,bisnis,wanita dll dari siang sampai malam hari (harap dimengerti,pria jg hampir sama dg wanita.red). Nah berawal dari situlah tercetus utk saling reuni yang memang bertujuan untuk silaturahmi. Maklum kita sudah hampir 2 tahun tdk bertemu. Kebanyakan sudah pada sibuk kerja,malah tidak sedikit pula yang sudah memiliki anak. *hee ane malah blm punya pacar...

Singkat cerita mulailah menyusun rencana,menentukan kapan waktunya, dan siapa saja yang akan menjadi panitianya. Dari situ mulailah utk menghubungi atau kalo istilah kerennya 'lobi-lobi' (*wukekek kesannya kaya tim pansus DPR yah.red).

Dari hasil lobi,àϑá cerita yang cukup menarik, dari beberapa kawan yang kita hubungi hampir seluruhnya agak tidak setuju untuk melakukan reuni dalam waktu dekat ini karena belum àϑá yang bisa dibanggakan. Saat sms ke seseorang sebut saja mr.x (beuh kayak pelaku kejahatan a susila aja yah..wukekek.red)
Dia ngomong pd intinya, kalo reuni nanti ketemu dosen2x,masih malu belum àϑá yang bisa dibanggakan,S2 masih blm selesei,pkerjaan masih di swasta dll. Sedangkan salah satu teman wanita,sebut saja Bunga bukan nama sebenarnya (he3 tetep dg istilah samaran pelaku a susila.red), menyampaikan bahwa beliau malu moso kumlod kerjanya cuma seperti ini. Dan hampir semuanya menyampaikan hal yang sama. Mereka malu jika nanti ditanya dosen,atau kawan mereka dg pertanyaan seperti : kerja dimana?gajinya berapa?sudah punya anak belum?sejak kapan kerjanya?sudah punya apa aja?rumah?kendaraan? Kok sekarang penampilannya masih tidak berubah ya?dan lain-lain.

Huft, all my friend, tujuan kita mengadakan reuni itu bukan untuk saling bangga-membanggakan apa yang kita miliki dalam hal duniawi. Dirimu mau kaya, mau kerja di perusahaan yang paling terkenal sekalipun, ah biasa aja itu bukan hal yang kekal,bisa hilang kapanpun dalam sekejap. Kita reuni ini untuk saling silahturahmi,yang punya banyak manfaat,salah satunya memperpanjang umur dan mempermudah rejeki.
Kita menjadi orang yang baik saja,tidak melakukan kriminal,tidak melakukan penipuan, korupsi uang (he3 klo korupsi waktu,kita masih sering kali ya.red),dll dosen,kerabat,kawan kita pun pasti sudah bangga kok. Tidak usah berpikir yang terlalu sulit dan rumit sesuatu hal. Kalo mengutip kata DR Aidh al-Qarni, Jangan menerka-nerka peristiwa,jgn menunggu keburukan ,jangan percaya terhadap semua kabar yang tidak jelas, dan jangan menelan mentah-mentah cerita yang tidak benar. Kebanyakan yang ditakuti orang itu tidak pernah terjadi. Kebanyakan berita-berita yang menakutkan itu tdk pernah trjadi. Di sisi Alloh lah semua pengawasan dan pertolongan.

Yup, :) hanya ingin menyampaikan sesuatu hal saja, mari kita jadi diri kita sendiri apa adanya sehingga dirimu bisa menikmati hidup, syukuri apa yang kita dapat agar tidak mengeluh. Semoga kalian sukses kawan, tentunya sukses dunia dan akhirat. Salam hangat :)