Senin, Mei 17, 2010

Dagelan Penggerebegan Teroris


Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan
Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.

Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu. Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang
tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.

Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo, termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.

Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini. Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah makan. Di tempat itu pula –di pinggir jalan— mereka baru memakai rompi anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka, memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan
lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.

Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta. Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani mengambil momentum bersejarah ini…

Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya
200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!

Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat. Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.

Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.

Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera atau menghapus gambar yang ada dirinya.

Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka.


Lalu, apa artinya semua ini?

(Dikutip dari posting Hanibal W. di Facebook)

Sabtu, Mei 15, 2010

Jenuh, bagaimana solusinya


Tidak tau kenapa akhir-akhir ini kemalasanku memuncak. Rasanya ingin terus ditempat tidur terus, makan terus, dan maen game. Kebiasan mengagendakan jadwal kerja harian ataupun evaluasi dimalam hari sudah hampir 2 minggu ini tidak berjalan. Dampaknya, sehari-hari seperti tanpa arah. Ngalor-ngidul tidak jelas. hehe
Cucian selama 2 minggu blm tak cuci, mw ke laundry kyknya cukup mahal kalo bajunya seabreg gitu. dari pada uang buat nyuci mending buat makan. haha *dasar anak kosan.
dan utk situasi kamar, sudah tentu tidak bisa saya gambarkan lagi, anda pasti sudah bisa membayangkan kamar seorang cowo yg malasnya sedang memuncak, haha seperti kapal pecah.

Ternyata hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, kenapa? karena ternyata berdampak pada psikologi kita. Semangat bekerja, belajar, bahakan beribadahpun terganggu. pekerjaan semakin menumpuk, dan akhirnya stress. Masalahpun bukannya terseleikan, malah bertambah. Kejenuhan itulah yang akan muncul.

Tidak bisa dipungkiri memang, dalam kita bekerja, bersekolah, ataupun berkehidupan sehari-hari akan selalu mengalami rasa jenuh. Beberapa faktor yang menyebabkan rasa jenuh, sudah tak sebutin tadi. Ada masalah yg tidak segera diseleseikan atau dihadapi, malah kabur, males2an dirumah dll. Kalo sudah bagitu bukannya menyeleseikan masalah malah makin runyam. Nah itu pula yang mungkin pernah anda alami. dont worry, its normaly

Nah Kalo menurut Abu Farras Mujahid, dalam bukunya yang menyebabkan orang jenuh Pertama, lemahnya tekad dan kemauan. Kejenuhan akan mengakibatkan kemalasan, dan kemalasan akan mengakibatkan keinginan berbuat maksiat. Kejenuhan tidak akan terjadi jika tekad dan kemauan kita kuat. Batu penghalang setinggi apapun akan dapat dilewati dan ujian dan cobaan seliat apapun akan dilalui juga. Tokoh-tokoh besar dalam sejarah adalah orang-orang yang tekad dan kemauannya kuat. Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan istiqomah. Mereka memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Mereka selalu mencium aroma penghargaan dari Tuhan dan umat manusia.

Jika saja Thomas Alva Edison berhenti pada kegagalannya yang ke seribu dalam menciptakan bola lampu, niscaya ia tidak akan mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari umat manusia. Bagi mereka yang lemah tekad dan kemauannya, pandanglah ke depan, lihatlah di ujung jalan yang sedang kita tempuh, orang-orang menanti kita dengan wajah tersenyum puas dan bahagia. Mereka sedang menanti kita untuk memberikan penghargaan. Mereka akan mengucapkan terima kasih, pelukan hangat, doa, dan dukungan kepada kita.

Dengan tekad dan kemauan yang kuat itulah mengapa orang-orang seperti Ibnu Sina diangkat menjadi bapak kedokteran, Ibnu Khaldun diangkat menjadi bapak ilmu sosiologi, Thomas Alva Edison dikenal sebagai seorang pencipta paling terkemuka di abad ke-20, dan Einstein dikenal sebagai ilmuwan terhebat di abad ke-20. Dengan tekad dan kemauan yang kuat itulah Barack Obama diangkat menjadi Presiden Amerika, Stephen Hawking yang walaupun cacat adalah ilmuwan terhebat di abad ke-21.

Kedua, sering menunda-nunda pekerjaan. Jika kita menunda-nunda pekerjaan, berarti kita sedang menumpuk-numpuk pekerjaan. Biasanya ketika melihat pekerjaan yang begitu banyak, kita menjadi susah berkonsentrasi. Karena merasa berat, kita meninggalkannya. Terus saja pekerjaan itu semakin banyak bertumpuk. Tidak ada habis-habisnya.

Jika kita merasa jenuh, ada baiknya kita memeriksa apakah ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Dengan menyelesaikan pekerjaan yang sudah seharusnya kita selesaikan, berarti kita mengurangi beban kita. Jika kita sudah masuk di dalamnya, kita akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tinggal kita istiqomah dalam menjalankannya hingga tugas itu satu demi satu dapat terselesaikan dengan baik.

Tentang larangan menunda-nunda pekerjaan, Allah Swt. telah memberikan isyaratnya kepada kita. Allah Swt. berfirman dalam surat Alam Nasyrah ayat 7, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Dalam ayat ini, Allah Swt. seolah tidak memberikan jeda kepada kita untuk bermalas-malasan. Kita harus menyelesaikan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh dan setelah itu mengerjakan pekerjaan yang lain dengan sungguh-sungguh pula. Hidup ini terus saja berputar sampai kita menemui ajal.

Ketiga, kemaksiatan membuat kita lemah. Kemaksiatan adalah nama lain dari kehinaan, kemunduran, kehancuran, ketakutan, dan kebinasaan. Ketika kemaksiatan sudah menggerogoti diri kita, maka semangat dalam beramal akan memudar bahkan tidak ada sama sekali. Mungkin pada awalnya kita bersemangat dalam beramal, namun kemudian berhenti di tengah jalan sebelum mencapai tujuan. Jika semangat kita sudah mulai lemah, introspeksilah diri kita apakah ada kemaksiatan yang telah kita lakukan sebelumnya.

Obat bagi orang-orang yang telah berbuat maksiat adalah bertaubat dan taqarub kepada Allah Swt.. Dengan taubat, Allah akan membersihkan hati kita dari noda-noda maksiat, dan dengan taqarub, Allah akan memberikan kita kekuatan. Karena, tiada daya dan kekuatan kecuali berasal dari Allah. Jika Allah memberikan kekuatan kepada kita, tidak ada yang sanggup melemahkan kita. Jika Allah memberi petunjuk kepada kita, tidak ada yang sanggup menyesatkan kita meskipun seluruh setan dan manusia bersatu untuk menyesatkan kita. Ketaatan kepada Allah adalah nama lain dari kemuliaan, kebahagiaan, kesuksesan, kejayaan, dan keberanian.