Disaat kita mengalami keterpurukan siapakah yang akan menolong pertama kali? Siapakah yang akan membantu sepenuh hati? Siapa yang akan membela mati-matian? Siapa yang akan mendengarkan curhatan, amukan dan kebencian kita tanpa membuka rahasia curhatan kita ke orang lain? Siapa yang memperhatikan kita tanpa pamrih ingin diperhatikan?
IBUKU. Seorang Ibu dengan 4 orang anak, yang tak kenal lelah dalam membesarkan anak-anaknya. Cucuran keringat, air mata, doanya telah sukses membesarkan anak-anaknya menjadi anak yang soleh-solehah. Hanya lulusan SMP, dan seorang ibu rumah tangga, tidak begitu mengerti bahasa asing ataupun politik yang diketahui beliau adalah mengaji al quran, pengajian, kumpul dg ibu-ibu PKK dan membuat makanan. Tetapi Saya bangga dan salut kepada beliau.
Betapa besarnya kasih seorang ibu. Cintanya yang dalam sudah ditanamkan sejak masih berada di dalam perutnya. Belaian lembut dari jemarinya melebihi sutra. Harapan dan kasih sayangnya melebihi rindunya seorang kekasih. Cinta Ibu begitu hebat hingga tak mampu untuk mengukurnya. Saya Bersyukur telah memiliki ibu yang selalu setia mendampingi setiap saat.
Aku suka melihat wajah ibu. Sering ku renung wajah tenang ibu. Ibu sering berbicara denganku walaupun aku masih belum dapat mengerti bait-bait kalimahnya. Saat ibu bercerita, aku curi-curi pandang matanya yang bersinar riang menterjemahkan kebahagiaan yang dikecapi. Lembut wajahnya memancarkan tawadhu di dalam limpahan kesyukuran. Garis-garis halus wajahnya melambangkan ketabahan, lunak suaranya penuh kasih sayang dalam ketegasan.
Ibu, maafkan anakmu yang selama ini dan sampai kapanpun tidak bisa membalas semua kebaikanmu, membalas semua jasa jasamu, membalas semua kasih sayangmu, walaupun pengabdianku hingga 100 tahun lamanya. Ibuku tersayang, maafkan semua salahku semoga suatu saat kita dapat bertemu dalam indahnya kasih Allah yang selalu terpancarkan. Aku berdoa semoga Ibu selalu bahagia dalam kedamaian dalam berkah Allah yang selalu disyukuri. Aku mencinta Ibu sepenuh hatiku, doaku selalu untuk Ibu tercinta. Dalam keheningan malam aku merindukan rumahku. Semoga Allah selalu memberikan kedamaian di dalamnya.
Aku tak tahu bagaimana cara membalas jasa-jasamu ibu. Aku ingin skali membuatmu tersenyum. Doakanlah aku menjadi orang yang sukses. Aku ingin kau bangga memiliki anak sepertiku. Satu keinginan yang selalu kau ucapkan saat aku kecil dulu adalah agar diriku menjadi seorang Ustadz yang bisa mendakwahkan agama Islam, berbagi kepada saudara-saudara yg tidak mampu, dan selalu berbuat baik. Aku akan berusaha. Mungkin karena hanya dengan inilah aku bisa membalas semua jasa-jasamu. Dan kelak aku akan merawatmu dengan penuh kasih sayang, Semua hanya untukmu ibu.
Mungkin jika kita ingin belajar sebuah kata bermakna ikhlas, maka lihatlah ibu dan ayah kita. Itulah ikhlas yang selama ini kita cari, ternyata ada setiap hari, setiap waktu namun kita tak pernah menyadarinya. Ibu... muara segala peluhku,Terimakasih pada Allahku yang telah mencipatakan sebaik-baik wanita bernama ibu...
Jika kita masih ingin berharap Allah membantu segala usaha kita, maka banyak-banyak berbakti kepada kedua orang tua kita, terutama sekali ibu kita. Kita mesti mencari peluang untuk dapat menyenangkan hati ibu kita. Dengan sedikit atau banyak perbuatan yang dapat membahagiakan ibu kita maka akan sangat baik bagi kita. Ibu adalah pintu keridhaan Allah kepada kita. Ibu adalah sungai yang dengan air cintanya dapat memudahkan jalan hidup kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Maka dari itu selagi masih ada kesempatan jangan sia-siakan peluang itu. Selagi ibu kita masih hidup maka segeralah ambil tindakan untuk menyenangkan hatinya. Jangan sampai kita menyesal. Penyesalan tak ada gunanya. Yang terbaik adalah lakukan sekarang. Pulang dan segera raih kesempatan itu. Cium tangan ibu kita dan minta restunya.
* Utk Ibu tercinta di Purwokerto, salam dari anak laki-lakimu di jakarta yg selalu merindukanmu. Semoga aku dikaruniakan keizinan dan kekuatan untuk memenuhi harapanmu, wahai ibu yang mulia. I love u mom..