Kasus ambalat kembali mencuat lagi akhir2 ini. Terakhir anggota DPR komisi I berangkat ke Malaysia untuk bertemu ketua parlemen malaysia dan tidak menutup kemungkinan untuk bertemu Menlu, Menhan dan perdana menteri Malaysia. Tapi mungkin banyak dari kita salah dan belum paham, tentang blok ambalat ini.
sebelum kita menganalisa dan berbicara tentang amabalat, kita harus mengetahui cerita awal atau latar belakang tentang amabalat ini. ada beberapa yang harus kita ketahui:
(1) Kita harus tau terlebih dahulu bahwa ambalat ini bukan pulau, tapi merupakan offshore area. karena banyak orang yang belum tau dan banyak yang mengatakan bahwa amabalat itu pulau.
(2) Sebenarnya Malaysia mulai berani untuk mempermasalahkan status ambalat ini setelah mereka memenangkan pulau sipaldan dan ligitan atas Indonesia di mahkamah internasional (International Court of Justice) tahun 2002. Berhubung letak Ambalat dekat dengan dua pulau ini, Malaysia semakin gencar mengklaim Ambalat yang dia beri nama blok ND6 dan ND7.
(3) Sebenarnya letak Ambalat memang sudah ada di peta Malaysia tahun 1979, tetapi peta ini banyak diprotes oleh banyak negara tetangga dan menolak peta kontroversi ini, karena peta ini memuat area negara–negara tetangga. pada februari 1980, Indonesia mengirim surat protesnya, yang kemudian diikuti oleh Philippines, China, Singapore, Thailand, Vietnam, Thailand, dan juga UK yang mewakili Brunei.
(4) Permasalahan Ambalat menjadi panas ketika perusahaan nasional minyak Malaysia, Petronas memberi licenses untuk eksplorasi di dua bloknya, ND6 dan ND7 kepada Royal Dutch/Shell Group pada 16 Febuari 2005. Kedua blok ini tumpang tindih (overlap) dengan area Indonesia –blok Ambalat dan Ambalat Timur yang di-licensed kepada ENI dan Unocal pada Desember 2004.
(5) ENI SpA, perusahaan minyak terbesar di Italia, menemukan cadangan minyak (oil reserves) baru di blok Ambalat pada April 2009,Menurut hasil yang ditemukan, ENI dapat memproduksi 30.000 hingga 40.000 barel minyak per hari.
(6)Di blok ambalat ini menurut pemerintah indonesia, terdapat cadangan minyak yang cukup banyak antara 100juta hingga 1 milyar barel dan bisa dieksploitasi hingga lebih dari 25 tahun. Ini tentu menjadi hal yang sangat menjajikan setelah Indonesia yang harus mengundurkan diri dari OPEC september 2008 karena produksi minyaknya menurun. Terlebih lagi, Indonesia dan Malaysia sama–sama sedang mengantisipasi kenaikan yang signifikan dalam konsumsi domestik untuk minyak mentah sejalan dengan strategi energy intensive growth dan usaha–usaha industrialisasi dari kedua belah pihak. sehingga nilai Ambalat semakin naik.
(7) Dan terakhir yang tak kalah penting untuk kita ketahui adalah perkembangan perbatasan Indonesia - Malaysia itu sendiri. Sejarah anta inggris dan belanda kolonial. Hal penting yang harus dipelajari adalah “Konvensi 1891” antara Inggris dan Belanda dalam membagi Borneo menjadi dua: daerah utara dibawah kontrol Inggris, dan daerah selatan dibawah kekuasaan Belanda.
Jadi kita harus tahu bahwa Indonesia adalah pewaris dari Belanda, sedangkan Malaysia adalah jajahan dari Inggris. Sehingga untuk membahas tentang perbatasan Indonesia - Malaysia, kita harus melihat kembali ke "KONVENSI 1891".
Investigasi secara intensif perlu dilakukan dalam memutuskan apakah konvensi tersebut menjelaskan tentang kepemilikan Ambalat. Tetapi kelihatannya, konvensi tersebut tidak bisa menolong dalam menyelesaikan kasus ini, karena konvensi 1891 tidak mengandung kepemilikan Ambalat di dalamnya. Konvensi 1891 hanya menyebutkan bahwa Inggris dan Belanda setuju untuk mengakui garis batas sampai di pesisir timur (east coast) Borneo.